Hot Best Seller

Orang-Orang Bloomington

Availability: Ready to download

Orang-orang Bloomington adalah karya penting Budi Darma. Kumpulan cerita ini merupakan salah satu karya Sang Maestro yang, berbeda dengan kebanyakan karyanya, tidak bertemakan hal-hal abstrak. Melalui cerita-cerita yang ditulis pada periode akhir 1970an ini, pembaca tidak hanya diajak menelanjangi pergolakan emosional para tokoh di dalamnya, tetapi juga menyelami berbagai Orang-orang Bloomington adalah karya penting Budi Darma. Kumpulan cerita ini merupakan salah satu karya Sang Maestro yang, berbeda dengan kebanyakan karyanya, tidak bertemakan hal-hal abstrak. Melalui cerita-cerita yang ditulis pada periode akhir 1970an ini, pembaca tidak hanya diajak menelanjangi pergolakan emosional para tokoh di dalamnya, tetapi juga menyelami berbagai permasalahan humanistik mereka dalam berhubungan dengan lingkungan dan sesama.


Compare

Orang-orang Bloomington adalah karya penting Budi Darma. Kumpulan cerita ini merupakan salah satu karya Sang Maestro yang, berbeda dengan kebanyakan karyanya, tidak bertemakan hal-hal abstrak. Melalui cerita-cerita yang ditulis pada periode akhir 1970an ini, pembaca tidak hanya diajak menelanjangi pergolakan emosional para tokoh di dalamnya, tetapi juga menyelami berbagai Orang-orang Bloomington adalah karya penting Budi Darma. Kumpulan cerita ini merupakan salah satu karya Sang Maestro yang, berbeda dengan kebanyakan karyanya, tidak bertemakan hal-hal abstrak. Melalui cerita-cerita yang ditulis pada periode akhir 1970an ini, pembaca tidak hanya diajak menelanjangi pergolakan emosional para tokoh di dalamnya, tetapi juga menyelami berbagai permasalahan humanistik mereka dalam berhubungan dengan lingkungan dan sesama.

30 review for Orang-Orang Bloomington

  1. 4 out of 5

    Abduraafi Andrian

    "Hati-hati dengan prasangka." Mungkin hal sederhana itulah yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam buku ini. Hanya ada 7 cerita dalam buku setebal 296 halaman lebih sedikit. Cerita paling pendek minimal setebal 20 halaman, paling panjang mungkin ada 70 halaman. Silakan bayangkan sendiri bagaimana cara menikmati cerita tidak-pendek-tapi-juga-tidak-panjang ini. Walaupun memang melelahkan, buku ini indah sekaligus bikin miris melalui diksinya. Favorit saya adalah "Laki-Lak "Hati-hati dengan prasangka." Mungkin hal sederhana itulah yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam buku ini. Hanya ada 7 cerita dalam buku setebal 296 halaman lebih sedikit. Cerita paling pendek minimal setebal 20 halaman, paling panjang mungkin ada 70 halaman. Silakan bayangkan sendiri bagaimana cara menikmati cerita tidak-pendek-tapi-juga-tidak-panjang ini. Walaupun memang melelahkan, buku ini indah sekaligus bikin miris melalui diksinya. Favorit saya adalah "Laki-Laki Tua Tanpa Nama". Beberapa kutipan jawara yang sedikit depresif, menurut saya: "Saya tahu bahwa Joshua suka menulis puisi, tapi saya juga tahu bahwa dia hanyalah seorang yang bodoh, tidak seperti Cathy, kakaknya, yang sudah berdiri sendiri setelah lepas dari SMP, dan sanggup membantu saya setelah lepas dari SMA." ('Joshua Karabish', hlm. 62) "Meskipun saya sudah lama tidak langganan koran, saya tahu bagaimana sikap orang membaca berita kematian." ('Ny. Elberhart', hlm. 212) "Yang merisaukan saya adalah setiap kali saya melihat wajah saya, saya merasakan bahwa semua yang saya kerjakan tidak pernah selesai, seolah saya ditakdirkan selalu sibuk, tapi tidak mempunyai arah." ('Charles Lebourne', hlm. 242)

  2. 5 out of 5

    Arif Abdurahman

    Saat baca ini, saya juga sedang baca As I Lay Dying-nya Faulkner. Penggunaan sudut pandang orang pertama dalam cerita emang lebih mengasyikan, apalagi jika si tokohnya culas. Tokoh-tokoh utama dalam cerpen Budi Darma ini, selain punya inferior complex, pada kepo bahkan mengarah psikopat. Meski tokoh utamanya hampir serupa, tapi tiap cerita punya keenakan tersendiri.

  3. 5 out of 5

    Nur

    Wow. Ini pertama kalinya aku baca karya sastra punya Indonesia. Maksudku, yang bener-bener sastra. Ah begitulah. Selama ini aku cuma baca novel-novel yang ditulis orang Indonesia, dan sisanya adalah novel terjemahan. Aku tidak menyangka, pengalaman membaca karya sastra Indonesia pertamaku akan seperti ini. Seperti : wow, aku ngga nyangka bisa membaca sesuatu yang "keren" kayak gini. Kenapa aku tiba-tiba penasaran? Sempet lihat sekilas seseorang baca buku ini di beranda Goodreads milikku. Dan Wow. Ini pertama kalinya aku baca karya sastra punya Indonesia. Maksudku, yang bener-bener sastra. Ah begitulah. Selama ini aku cuma baca novel-novel yang ditulis orang Indonesia, dan sisanya adalah novel terjemahan. Aku tidak menyangka, pengalaman membaca karya sastra Indonesia pertamaku akan seperti ini. Seperti : wow, aku ngga nyangka bisa membaca sesuatu yang "keren" kayak gini. Kenapa aku tiba-tiba penasaran? Sempet lihat sekilas seseorang baca buku ini di beranda Goodreads milikku. Dan entah kenapa, si kovernya ngga bisa lepas dari pikiran. Dan tepat ketika Padjadjaran Book Fair diadakan di depan kampusku, aku menemukan buku ini! Dan diskon pula! Kebetulan macam apa ini? :"D Langsung saja aku beli buku ini, karena kovernya yang selalu membayang-bayangi pikiranku. Selain itu, aku pikir akan mudah membacanya, karena buku ini adalah kumpulan cerita pendek. Akhir-akhir ini mood membacaku sedang menurun, untuk menaikkannya kembali aku butuh membaca sesuatu yang ringan dan cepet selesai. Dan jadilah aku memilih buku ini :) Awalnya aku ngga menaruh ekspektasi tinggi sama buku ini. Ini pengalaman membaca sastra yang bener-bener sastra (apaan ini?) pertama untukku. Aku membacanya tanpa berharap apapun (selain penasaran sama karakter Orez yang dimaksud oleh Agus Noor di halaman-halaman awal buku ini) Dan ternyata oh ternyata... Aku terhanyut pada semua cerita pendek yang ditulis oleh Budi Darma ini. Aku tidak menyangka... Aku tidak menyangka.... Bahwa cerita pendek punya kekuatan semacam ini; kekuatan untuk membuatku tertegun dalam waktu singkat. Apalagi karakter-karakter dalam cerita pendek yang ada pada buku ini, semuanya benar-benar berkesan dalam pikiranku. Dan mungkin dalam beberapa waktu, aku tidak akan bisa mengenyahkan karakter-karakter tersebut dari dalam pikiranku. Mereka begitu... Apa ya? Aneh, hidup, dan... Menyeramkan. Menyeramkan dalam artian... kok bisa sih mereka mikir kayak gitu? Semua cerpen yang ada dalam buku ini meninggalkan begitu banyak perasaan dalam diriku. Tapi cerpen yang berjudul "Orez" dan "Keluarga M" juga "Charles Lebourne" bener-bener sesuatu untukku. Terutama cerpen "Charles Lebourne" Ya Tuhan, ada beberapa deskripsi karakternya yang membuat aku tertegun cukup lama. Dan aku terhanyut. Deskripsi itu seperti sengaja ditulis oleh Budi Darma untukku. Aku... Aku... Kehilangan kata-kata. Oleh karena aku membaca buku Orang-Orang Bloomington ini, aku jadi ingin membaca karya sastra Indonesia yang lainnya. Aku mulai tertarik untuk membaca buku-buku yang ditulis oleh Eka Kurniawan, dan Aan Mansyur. Tapi sejauh ini, aku sudah membeli buku kumpulan puisi Aan Mansyur yang berjudul Melihat Api Bekerja: Kumpulan Puisi :) Lalu, aku penasaran ingin membaca buku Sepotong Senja untuk Pacarku: Sebuah Komposisi Dalam 13 Bagian dari Seno Gumira Ajidarma. Buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas juga mulai menarik perhatianku ^^ Kesimpulannya, aku jadi ingin membaca buku kumpulan cerpen yang seperti ini lagi. Aku ingin merasakan perasaan "tertegun" itu lagi; semacam perasaan bahwa kamu mendapati sesuatu yang jauh diluar pikiran kamu, yang tidak pernah terbayangkan oleh kamu sebelumnya. Buku kumpulan cerpen "Orang-orang Bloomington" ini, jelas sudah membawaku ke sebuah perasaan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya melalui para karakter-karakternya yang sangat jdhsdhahas itu. Pokoknya susah dijelaskan! Tapi aku suka! []

  4. 4 out of 5

    Indri Juwono

    #2010-25# SINTING!! Tokoh 'saya' yang ada di sini semuanya benar-benar seseorang yang mau tahu saja urusan orang lain. Aku sendiri berusaha menghubung-hubungkan bahwa tokoh 'saya' ini benar-benar ada, dan semua cerita ini bertaut satu sama lain. Pertama, sesudah ia mengamat-amati lelaki yang membawa senjata itu, lalu ribut mempertanyakannya, bahkan mencari tahu ke lingkungan sekitarnya, tanpa ia bertanya langsung pada si laki-laki ini. Kedua, dengan Joshua Karabish, yang meninggal dan me/>

  5. 4 out of 5

    Marina

    ** Books 246 - 2016 ** 3,2 dari 5 bintang! Buku ini merupakan hasil dari para kekepoan (knowing Every Particular Object) si narator yang merupakan sudut pandang pertama terhadap orang-orang disekitarnya. Saya suka sekali penggambaran detail suasana latar dan setting yang dibangun didalam buku ini :D Ada beberapa kisah yang menyedihkan untuk dibaca seperti Kisah Joshua Karabish dan Orez. Tetapi favorit saya dibuku ini adalah kisah Keluarga M yang memukau untuk dibaca. Apa ya mungkin k/>3,2 ** Books 246 - 2016 ** 3,2 dari 5 bintang! Buku ini merupakan hasil dari para kekepoan (knowing Every Particular Object) si narator yang merupakan sudut pandang pertama terhadap orang-orang disekitarnya. Saya suka sekali penggambaran detail suasana latar dan setting yang dibangun didalam buku ini :D Ada beberapa kisah yang menyedihkan untuk dibaca seperti Kisah Joshua Karabish dan Orez. Tetapi favorit saya dibuku ini adalah kisah Keluarga M yang memukau untuk dibaca. Apa ya mungkin karena si narator ini begitu dendamnya dengan Keluarga M sampai tidak ia sadari memantau hal-hal kecil dari keluarga ini. Endingnya juga suram dan terlihat hampa. Entah kenapa sekilas bagian kisah itu mengingatkan saya akan buku A Man Called Ove dengan kisah lelaki pemberangnya yang suka menggerutu akan segala hal :D Terimakasih Perpustakaan Kemendikbud atas peminjaman bukunya

  6. 4 out of 5

    Tri Utomo

    "Di seberang sana selalu ada surga, itulah kesepakatan yang tidak pernah kami ikat dengan kata-kata, tapi kami teguhkan dengan perbuatan." (Halaman 123, dalam Orez) Ini adalah kali pertama saya membaca karya Budi Darma, memutuskan untuk membacanya pertama karena tertarik dengan judulnya. Terdapat 7 cerita pendek di sini, dan yang menjadi favorit saya adalah Orez dan Ny.Elberhart, karena hanya di kedua cerita inilah tokoh 'saya' tidak terlalu berkelakuan nyeleneh menurut say "Di seberang sana selalu ada surga, itulah kesepakatan yang tidak pernah kami ikat dengan kata-kata, tapi kami teguhkan dengan perbuatan." (Halaman 123, dalam Orez) Ini adalah kali pertama saya membaca karya Budi Darma, memutuskan untuk membacanya pertama karena tertarik dengan judulnya. Terdapat 7 cerita pendek di sini, dan yang menjadi favorit saya adalah Orez dan Ny.Elberhart, karena hanya di kedua cerita inilah tokoh 'saya' tidak terlalu berkelakuan nyeleneh menurut saya. Hahahaha Di ketujuh cerita ini mempunyai satu benang merah yang saling menghubungkan, yakni kesepian, dan hampir pada setiap cerita terdapat tokoh orang tua yang menjelaskan keadaan mereka begitu terasing dan mungkin terabai dari lingkungan mereka. Dan setiap cerita selalu saja bermula dari rasa keingintahuan si tokoh 'saya', yang berujung hal itu membuatnya susah sendiri. Selama membaca buku ini dibuatnya gemas, segemas-gemasnya. Apalagi di cerita Keluarga M, kenapa ada orang seusil itu untuk mengurusi urusan orang lain? Dan bagaimana tokoh 'saya' memperlakukan anak-anak dari Keluarga M ini sangat membuat saya tak habis pikir, bagaimana seorang dewasa berkelakuan sangat kanak-kanak seperti itu. Beda lagi dengan cerita Yorrick, di cerita ini tokoh 'saya' mengundang simpati karena dicurangi oleh teman serumahnya. Tapi memang, masing-masing cerita sangat kuat, berhasil membuat emosi ini naik-turun, sebal, gemas, prihatin, dan ngeri. "Yang merisaukan saya adalah setiap kali saya melihat wajah saya, saya merasakan bahwa semua yang saya kerjakan tidak pernah selesai, seolah saya ditakdirkan selalu sibuk, tapi tidak mempunyai arah." (Halaman 257, dalam Charles Lebourne)

  7. 4 out of 5

    Yuli Hasmaliah

    "Janganlah mengurusi kepentingan orang lain dan janganlah mempunyai keinginan tahu tentang orang lain. Hanya dengan jalan demikiam, kita dapat tenang". Buku yang menggugah pemikiran, menyadarkan bahwa rasa keingintahuan dari dalam diri kita sendiri itulah yang terkadang membuat menyulitkan kita sendiri. Ketujuh cerpen yang disajikan dalam Orang-orang Bloomington ini amat menggelitik dan memiliki kekhasan tersendiri menurut saya. Sebagaimana yang dikatakan oleh SGA dalam bukunya Tiada "Janganlah mengurusi kepentingan orang lain dan janganlah mempunyai keinginan tahu tentang orang lain. Hanya dengan jalan demikiam, kita dapat tenang". Buku yang menggugah pemikiran, menyadarkan bahwa rasa keingintahuan dari dalam diri kita sendiri itulah yang terkadang membuat menyulitkan kita sendiri. Ketujuh cerpen yang disajikan dalam Orang-orang Bloomington ini amat menggelitik dan memiliki kekhasan tersendiri menurut saya. Sebagaimana yang dikatakan oleh SGA dalam bukunya Tiada Ojek Di Paris, bahwa memang Budi Darma sungguh apik dalam menelisik bagaimana pikiran, kebiasaan, hingga hal-hal detail lainnya yang menjadikan Orang-Orang Bloomington sebagai satu dari 100 buku sastra Indonesia yang direkomendasikan Tempo untuk dibaca. Dari Tujuh cerpen yang disajikan, saya benar-benar berkesan pada Orez dan Charles Lebourne. Orez melalui pemikiran ayahnya yang begitu menyadarkan tentang perasaan-keinginan alamiah yang pasti ada dalam diri setiap manusia, dan Charles Lebourne yang sungguh menjijikan; entah kenapa ketika saya membaca ceritanya malah teringat kisah hidup saya sendiri. Halah! Sekali lagi, sungguh buku ini saya rekomendasikan bagi ia (yang menjadi netizen di Indonesia) yang tengah ingin belajar-merefleksi diri untuk mengurangi perilaku keponya yang tentu menurut saya akan menyusahkan diri sendiri pada akhirnya. Haha. Oh ya, saya menyukai gaya satire-nya Budi Darma di beberapa cerita yang disuguhkannya. Menarik! Dan saya malah teringat pada Eka Kurniawan pada akhirnya wkwk.

  8. 5 out of 5

    Widia Kharis

    Sejujurnya, agak melelahkan untuk menamatkan buku ini, tapi toh akhirnya saya baca sampai tamat juga. Ada tujuh cerpen yang sebenarnya lumayan panjang, dikisahkan melalui sudut pandang orang petama dengan narasi yang super-detail. Alur setiap cerpen juga berjalan cukup lambat. Makanya saya bilang agak melelahkan. Tapi, orang-orang di Bloomington ini pada gila semua. Dan jalan pikir mereka yang gila itu diceritakan dengan begitu detail. Ketika membaca, saya dapat merasakan kekosongan, Sejujurnya, agak melelahkan untuk menamatkan buku ini, tapi toh akhirnya saya baca sampai tamat juga. Ada tujuh cerpen yang sebenarnya lumayan panjang, dikisahkan melalui sudut pandang orang petama dengan narasi yang super-detail. Alur setiap cerpen juga berjalan cukup lambat. Makanya saya bilang agak melelahkan. Tapi, orang-orang di Bloomington ini pada gila semua. Dan jalan pikir mereka yang gila itu diceritakan dengan begitu detail. Ketika membaca, saya dapat merasakan kekosongan, kesepian, dan betapa depresinya tokoh-tokoh 'saya' yang selalu bermain dengan kecurigaan dan prsangka. Cerpen favorit saya di antaranya adalah Lelaki Tanpa Nama, tentang kecurigaan 'saya' kepada seorang veteran yang kerap terlihat memainkan pistol; dan Keluarga M yang menceritakan keinginan 'saya' untuk mencelakakan sebuah keluarga hanya karena anak keluarga tsb ia dakwa telah menggores mobil miliknya. Dengan membaca buku ini saya jadi berpikir dua kali sebelum berprasangka dan menaruh curiga kepada seseorang atau sesuatu, takut kalau pikiran saya ini nantinya jadi kebablasan seperti Orang-orang Bloomington.

  9. 5 out of 5

    Diana

    Buku Terbaik yang aku baca tahun ini. Keren banget penokohannya, bisa ngulik sisi terdalam diri manusia yang nggak hitam-putih, baik-jahat. Manusiawi bangeeeet. ah, pokoknya aku bilang keren, harus baca!

  10. 4 out of 5

    Meivy Andriani

    saat dan setelah baca buku ini, saya merasa sangat terganggu, sangat tersindir, dan sangat menyukainya.

  11. 4 out of 5

    Bunga Mawar

    Buku yang judulnya lumayan keren buat bekal ngantri di ruang tunggu dokter. Konyolnya, sampe buku ini selesai dibaca, tidak satu pun dari dua dokter yang harusnya hadir menampakkan batang hidungnya! Artinya, setelah 3 jam, setelah berkenalan dengan semua orang di Bloomington, saya akhirnya pulang dengan kecewa pada petugas rumahsakit. Mbok ya petugas pendaftaran pasien woro2 gitu, jam berapa dokternya dateng, atau apa iya mereka bakal dateng, daripada kami dianggurin tanpa kabar, tanpa kue, tan Buku yang judulnya lumayan keren buat bekal ngantri di ruang tunggu dokter. Konyolnya, sampe buku ini selesai dibaca, tidak satu pun dari dua dokter yang harusnya hadir menampakkan batang hidungnya! Artinya, setelah 3 jam, setelah berkenalan dengan semua orang di Bloomington, saya akhirnya pulang dengan kecewa pada petugas rumahsakit. Mbok ya petugas pendaftaran pasien woro2 gitu, jam berapa dokternya dateng, atau apa iya mereka bakal dateng, daripada kami dianggurin tanpa kabar, tanpa kue, tanpa tehbotol... Sampai akhirnya membuat review buku ini saja jadi terpinggirkan. *curhat, bukan review*

  12. 4 out of 5

    Nadya

    (Dipinjemin mbak Endah... :D) Kumpulan cerita pendek yang ceritanya aneh semua... Kurang bisa menikmati yang ini nih. Beda banget kesannya sama Olenka. update 4-6-16 yaayyy... akhirnya bukunya dihibahkan padaku. hihihihi... thx yiayia

  13. 5 out of 5

    Ikra Amesta

    Lebih cocok kalau buku ini disebut kumpulan novel pendek. Atau, lebih tepat lagi, kalau buku ini disebut memoar pendek Budi Darma selama tinggal di Bloomington. Ada pola-pola yang tertangkap dari ketujuh cerita di sini dan secara amatir bisa diisyaratkan sebagai petunjuk kondisi riil si pengarang. Maka kalau boleh sok tahu, selama hidup di Bloomington kira-kira Budi Darma adalah seperti ini: 1. Mau tahu urusan orang. Entah itu si induk semang yang sudah uzur, atau bocah dekil tetangga apart Lebih cocok kalau buku ini disebut kumpulan novel pendek. Atau, lebih tepat lagi, kalau buku ini disebut memoar pendek Budi Darma selama tinggal di Bloomington. Ada pola-pola yang tertangkap dari ketujuh cerita di sini dan secara amatir bisa diisyaratkan sebagai petunjuk kondisi riil si pengarang. Maka kalau boleh sok tahu, selama hidup di Bloomington kira-kira Budi Darma adalah seperti ini: 1. Mau tahu urusan orang. Entah itu si induk semang yang sudah uzur, atau bocah dekil tetangga apartemen, atau pemilik kamar di apartemen seberang yang lampunya selalu menyala. Setiap urusan orang pokoknya akan dicari tahu dan ditekuni secara detil untuk memastikan bahwa orang-orang ini bukan sekadar orang-orang yang biasa memenuhi kota. 2. Kena penyakit. Entah tertular teman sekamar yang penyakitan atau terkena dampak kelelahan mengurusi masalah orang, yang jelas selama di sana ia sempat berobat ke dokter spesialis. 3. Benci tetangga. Siapapun. Anak-anak sampai nenek-nenek. Pikirannya dihabiskan untuk menjelaskan bagaimana ia membenci mahluk bernama tetangga ini. Mahluk yang selalu menarik perhatiannya. Tapi seringkali ia gagal menarik simpati pembaca atas kebenciannya itu karena tidak semua pembaca bisa dengan gampangnya membenci tetangganya sendiri. 4. Kesepian. Ini yang paling kentara. Karena ia tidak begitu menarik buat didekati. Karena ia lebih suka meladeni kesepiannya dengan mencampuri urusan orang. Karena bahkan kalau ia beristri sekalipun ia percaya anaknya pasti bakal cacat mental, dan dinamai Orez, kebalikan dari zero. Karena tidak ada yang bisa ditawarkan kota sekecil Bloomington kepadanya selain rasa kesepian. Tidak akan ada Orang-Orang Bloomington tanpa Budi Darma -- yang kepikiran buat menuturkan kisah dari tempat yang terlalu biasa-biasa saja dalam menghadapi absurditas, atau banalitas, yang terjadi di sana. Dalam hal ini, kejeliannya menangkap aroma sastra dari sekitar adalah sebuah keunggulan yang jarang. Karena kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya tidak ada yang istimewa dari tokoh-tokoh yang namanya dijadikan judul di setiap cerpen. Mereka hanya orang-orang yang biasa ditemui di jalan dengan masalah hidupnya masing-masing. Justru jari-jari usil si pengarang yang membuat orang-orang biasa itu jadi sebuah kisah, dan kisah itu kemudian menjelma jadi semacam tontonan realistis. Jujur sebenarnya saya tidak begitu peduli dengan Ny. Elberhart, Joshua Karabish, atau Charles Lebourne. Saya tidak mau direpotkan dengan kehadiran mereka. Saya hanya khawatir bagaimana sekarang orang-orang Bloomington menjalani kehidupannya tanpa kehadiran Budi Darma di sana -- kehidupan standar dan tawar yang membutuhkan seorang penulis handal untuk membuatnya jadi seperti punya percikan.

  14. 4 out of 5

    Faturrachman

    Novel ini bercerita tentang tokoh "saya" yang merupakan mahasiswa asing yg sedang berkuliah di Bloomington. Ia selalu memperhatikan lingkungan alam & sosial di sekitarnya, selalu ingin tahu urusan & kepribadian orang lain serta resah pada mereka. Mulai dari tetangga, ibu kost, cewek gebetan, teman sekamar, dll. Selain kepo, tokoh "saya" juga tak segan untuk bersosial, meskipun orang yg diajak bersosial enggan untuk bertemu dia. Menurutku, meskipun terdiri dari cerpe Novel ini bercerita tentang tokoh "saya" yang merupakan mahasiswa asing yg sedang berkuliah di Bloomington. Ia selalu memperhatikan lingkungan alam & sosial di sekitarnya, selalu ingin tahu urusan & kepribadian orang lain serta resah pada mereka. Mulai dari tetangga, ibu kost, cewek gebetan, teman sekamar, dll. Selain kepo, tokoh "saya" juga tak segan untuk bersosial, meskipun orang yg diajak bersosial enggan untuk bertemu dia. Menurutku, meskipun terdiri dari cerpen-cerpen dg cerita terpisah, tokoh "saya" adalah inti dari novel "Orang-orang Bloomington". Ia menyadarkan bahwa hidup bertetangga & bersosial tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Ada banyak masalah yang timbul, yang ironinya, timbil karena keresahan dirinya sendiri. Andai dia bisa mengabaikan orang-orang di sekitarnya & menahan diri dari rasa resah, ku kira dia bisa hidup damai selama di Bloomington. Tapi sekali lagi, tokoh "saya" adalah inti dari novel ini. Kemampuannya mendeskripsikan lingkungan alam serta kelebihan & kekurangan sifat orang-orang yang dia kenal menciptakan sudut pandang cerita yang menarik. Selain itu, Prof. Budi Darma sebagai penulis novel sukses memberikan pengetahuan : bahwa fenomena sosial di kehidupan sehari-hari dapat ditulis dengan bahasa yang sederhana, menjadi karya sastra yang enak untuk dibaca & direnungkan.

  15. 5 out of 5

    Nike Andaru

    Tadinya nyari buku ini, berniat malah ke lapak jualan buku bekas, tapi ternyata menemukan buku ini di perpustakaan, ya udah deh pinjem aja. Sayangnya buku Budi Darma di perpustakaan daerah Sumsel gak cukup banyak, hanya ada OOB ini sama Harmonium cetakan lama. Sekarang malah akan dicetak ulang yang judulnya Olenka. Awalnya saya mengira akan mendapati cerita pendek dalam beberapa judul, ternyata yang ada dalam buku ini gak bisa dibilang cerita pendek juga karena lumayan panjang ce Tadinya nyari buku ini, berniat malah ke lapak jualan buku bekas, tapi ternyata menemukan buku ini di perpustakaan, ya udah deh pinjem aja. Sayangnya buku Budi Darma di perpustakaan daerah Sumsel gak cukup banyak, hanya ada OOB ini sama Harmonium cetakan lama. Sekarang malah akan dicetak ulang yang judulnya Olenka. Awalnya saya mengira akan mendapati cerita pendek dalam beberapa judul, ternyata yang ada dalam buku ini gak bisa dibilang cerita pendek juga karena lumayan panjang ceritanya. Deskripsi tentang Bloomington itu sendiri diceritakan dengan baik sehingga pembaca bisa berimajinasi berada di sana. Seperti judulnya, ceritanya memang tentang orang-orang yang ada di Bloomington, yang ditemui tokoh 'aku'. Tokoh aku di sini terasa sangat manusiawi, kadang kesal, kadang mengumpat, kadang diliputi dendam yang beneran kita dapati kalo merasa kesal, merasa marah. Rasanya permasalahan orang-orang Bloomington saat itu sederhana tapi terasa sekali emosinya. Ah wajar saja buku ini benar-benar disukai banyak orang.

  16. 4 out of 5

    Vanda Kemala

    Gaya berceritanya yang detail nyaris 11-12 dengan Sobron Aidit. Bedanya Budi Darma menceritakan sosok lain, yang entah fiksi atau nyata, sedangkan Sobron Aidit banyak menceritakan hidupnya sendiri. Tiap tokoh di tiap cerita pendek ini perlu diakui punya tingkat empati ke orang lain yang cukup tinggi. Hal yang bagi orang sekarang, rasanya dianggap terlalu kepo. Beberapa empati berujung baik, sisanya, ya, tidak sesuai harapan. Banyak cerita yang cenderung suram, karena tingka Gaya berceritanya yang detail nyaris 11-12 dengan Sobron Aidit. Bedanya Budi Darma menceritakan sosok lain, yang entah fiksi atau nyata, sedangkan Sobron Aidit banyak menceritakan hidupnya sendiri. Tiap tokoh di tiap cerita pendek ini perlu diakui punya tingkat empati ke orang lain yang cukup tinggi. Hal yang bagi orang sekarang, rasanya dianggap terlalu kepo. Beberapa empati berujung baik, sisanya, ya, tidak sesuai harapan. Banyak cerita yang cenderung suram, karena tingkat emosional dan pikiran negatif yang bertubi-tubi, baik itu dari tokoh utama atau tokoh lain yang ada di cerita tersebut. Setidaknya, cerita Orez dan Keluarga M, cukup meninggalkan kesan di bagian ending.

  17. 5 out of 5

    Mandewi

    Cerpen-cerpen di sini menceritakan seseorang yang sangat peduli sekitar tetapi hidup di lingkungan yang penduduknya hanya peduli pada diri sendiri. Efeknya? Kadang baik, kadang buruk. Bagi dirinya, bagi orang lain. Beberapa bagian kocak, bagian lainnya pedih. Cerpen-cerpen di sini juga bikin saya merasakan kesal tapi gemas tapi kesal tapi gemas. Isi kepala tokohnya semacam ngasih tahu bahwa berpikiran jahat itu nggak apa-apa. Manusiawi. Apalagi kalau lingkungannya seperti yang disampa Cerpen-cerpen di sini menceritakan seseorang yang sangat peduli sekitar tetapi hidup di lingkungan yang penduduknya hanya peduli pada diri sendiri. Efeknya? Kadang baik, kadang buruk. Bagi dirinya, bagi orang lain. Beberapa bagian kocak, bagian lainnya pedih. Cerpen-cerpen di sini juga bikin saya merasakan kesal tapi gemas tapi kesal tapi gemas. Isi kepala tokohnya semacam ngasih tahu bahwa berpikiran jahat itu nggak apa-apa. Manusiawi. Apalagi kalau lingkungannya seperti yang disampaikan di cerita. Cerpen-cerpennya jadi bagus, mungkin, karena nggak menggambarkan idealisme sebagaimana diagungkan oleh moral. Hehe.. Jalinannya kalimatnya nggak bisa dibilang indah mendayu-dayu. Mungkin lebih dekat ke lugas. Alurnya lambat karena setiap adegan diceritakan dengan detail, termasuk pemikiran/alasan dilakukannya tindakan tersebut. Secara umum, perasaan dibuat jadi campur aduk! Wajib baca!

  18. 4 out of 5

    mei

    Saya membayangkan cerpen-cerpen di buku ini dibuat film oleh 2 sutradara Jepang kesukaan saya: Takeshi Kitano atau Yoshihiro Nakamura. Sudut pandang mainin sisi psikologis ini khas film2nya Yoshihiro nakamura banget. Ambyar. Cerita dalam cerpen-cerpennya tidak terduga. Pas baca cerita2nya tuh saya beneran mbayangin dibuat film dan di perankan oleh Matsuda Ryuhei atau Eita😅 Terdiri dari 7 cerpen. Favorit saya Orez dan Yorrick. Dan ya, mengutip catatan Budi Darma d Saya membayangkan cerpen-cerpen di buku ini dibuat film oleh 2 sutradara Jepang kesukaan saya: Takeshi Kitano atau Yoshihiro Nakamura. Sudut pandang mainin sisi psikologis ini khas film2nya Yoshihiro nakamura banget. Ambyar. Cerita dalam cerpen-cerpennya tidak terduga. Pas baca cerita2nya tuh saya beneran mbayangin dibuat film dan di perankan oleh Matsuda Ryuhei atau Eita😅 Terdiri dari 7 cerpen. Favorit saya Orez dan Yorrick. Dan ya, mengutip catatan Budi Darma di halaman pembuka, saya rasa memang terlalu berlebihan endorsment yg disematkan dalam buku ini xD Rekomen!

  19. 5 out of 5

    Zulfasari

    Ini kali pertama saya membaca karya Budi Darma dan setelah selesai membaca kumpulan cerpen ini cukup banyak kesan yang muncul dalam benak saya. Alur yang cukup sederhana tanpa kata yang berbelit ternyata dapat meninggalkan impresi mendalam. Tokoh 'Saya' dalam hampir semua cerita seakan menjadi teropong bagi saya untuk menilik lika-liku penghuni Bloomington. Jika ketika membaca karya Murakami seringnya saya merasa 'Saya' adalah fokus utama, tapi di Orang-Orang Bloomington terkadang 'Saya' ha Ini kali pertama saya membaca karya Budi Darma dan setelah selesai membaca kumpulan cerpen ini cukup banyak kesan yang muncul dalam benak saya. Alur yang cukup sederhana tanpa kata yang berbelit ternyata dapat meninggalkan impresi mendalam. Tokoh 'Saya' dalam hampir semua cerita seakan menjadi teropong bagi saya untuk menilik lika-liku penghuni Bloomington. Jika ketika membaca karya Murakami seringnya saya merasa 'Saya' adalah fokus utama, tapi di Orang-Orang Bloomington terkadang 'Saya' hanya sekadar lewat atau terkadang terjebak dalam kesepian dan jebakan yang ia buat sendiri.

  20. 5 out of 5

    R.G. Widagdo

    Judul : 4/5 Sampul : 4/5 Pembuka : 5/5 Cerita (-cerita) : 5/5 Penceritaan : 5/5 Bahasa : 5/5 Penutup : 4/5 Layout : 3/5 Blurb : 4/5 JUMLAH : 4/5 REKOMENDASI : 5/5 TOTAL : 5/5 Catatan: Ini cerita Pak Budi Darma pertama saya. Dan saya langsung suka. Cerita paling bagus dalam buku ini: SEMUA.

  21. 4 out of 5

    Nindya Chitra

    3.8 Review menyusul.

  22. 5 out of 5

    Madina

    it's unnerving how he can make the narrator's voices so logical and calm when their actions say otherwise

  23. 4 out of 5

    Pratiwi Utaminingsih

    Resensi ini akan saya mulai dari seorang Budi Darma. Sebenarnya sosok Darma sudah tidak asing lagi bagi saya. Ketika saya duduk di bangku SMP, guru Bahasa Indonesia memberikan tugas untuk membaca karya sastra era Balai Pustaka. Ketika saya list beberapa judul buku dan nama pengarang, salah satunya adalah Rafilus karya Budi Darma. Tapi nama itu saya lewati begitu saja. Menginjak bangku kuliah, salah satu dosen saya ternyata adalah putri dari Budi Darma. Namun lagi, saya melewatkan begitu saja kar Resensi ini akan saya mulai dari seorang Budi Darma. Sebenarnya sosok Darma sudah tidak asing lagi bagi saya. Ketika saya duduk di bangku SMP, guru Bahasa Indonesia memberikan tugas untuk membaca karya sastra era Balai Pustaka. Ketika saya list beberapa judul buku dan nama pengarang, salah satunya adalah Rafilus karya Budi Darma. Tapi nama itu saya lewati begitu saja. Menginjak bangku kuliah, salah satu dosen saya ternyata adalah putri dari Budi Darma. Namun lagi, saya melewatkan begitu saja karena tidak satupun karya beliau yang saya baca. Sekarang hampir empat tahun sejak saya wisuda, tidak sengaja menemukan Orang-Orang Bloomington di Gramedia. Tadinya saya ke Gramedia tidak bertujuan untuk membeli buku ini. Namun sepertinya kali ini saya berjodoh dengannya. Orang-Orang Bloomington sendiri adalah sebuah antologi cerita yang terhimpun dalam satu buku. Ada tujuh cerpen total. Masing-masing cerita memiliki sudut pandang orang pertama yang disebut “aku.” Dia tidak pernah mengungkap namanya disini. Tapi satu benang merah tentang karakter Aku adalah Aku yang selalu kepo, ingin tahu urusan orang lain secara berlebihan, pribadinya pendiam, lempeng, dan sering digambarkan sebagai orang yang sendirian atau lonely. Kalo buat saya sih karakter Aku ini weird banget. Ga akan mau saya temenan sama orang macam ini. Pantes selalu digambarkan sebagai sosok yang lonely, ya? Cerita pertama berjudul “Laki-Laki Tua Tanpa Nama.” Si Aku yang merupakan penduduk baru di Fess. Sebuah gang sepi yang hanya berpenduduk tiga wanita tua yang hidup sendiri. Hingga ada orang tua yang baru menempati loteng Ny.Casper. lelaki tua ini memang sedikit aneh, dia punya kebiasaan mengacung-acungkan pistol miliknya di depan jendela lotengnya. Si Aku yang penasaran dengan sosok laki-laki tua ini pun secara agresif mencari informasi tentangnya. Mulai dari tanya penerangan (108 itu lho :D), tanya kepada Ny.Casper sang tuan rumah, hingga bertanya ke pemilik sebuah toko kecil di Fess. Nyebelin kan? Kepo banget. Cerita kedua berjudul “Joshua Karabish.” Si Aku yang berdasarkan rasa kasihan mau menampung Joshua yang penyakitan dan sendirian. Hingga akhirnya Joshua meninggal dan meninggalkan semua barangnya di kontrakan Aku. Aku yang ingin tahu sengaja menelusuri semuanya. Cerita ketiga adalah “Keluarga M.” Hanya karena goresan kecil di mobilnya, timbul dendam yang amat kesumat dalam diri Aku. Hingga banyak rencana licik yang ia rencanakan untuk menghancurkan satu keluarga. Sick! Dilanjutkan oleh “Orez.” THIS IS THE SICKEST STORY! UNFORGETABLE! WEIRD! BEAUTIFUL! BEAUTIFULLY WEIRD! Orez berhasil bikin saya nganga sepanjang cerita. Alurnya sih biasa tapi karakternya itu lho. Lagian kenapa Pak Budi bikin makhluk jadi-jadian sih? Sengaja saya ga akan bocorkan sedikit tentang Orez. Karena ini masternya. You should read by yourself. My favorite story of Orang-Orang Bloomington. Lalu ada “Yorrick.” Sesosok Aku adalah pemuda sederhana yang jatuh cinta pada seorang gadis namun dibakar cemburu oleh sosok Yorrick yang nggilani, jorok, suka ambil makanan Aku. Mengapa? Karena gadis itu lebih menyukai Yorrick yang lecek daripada Aku yang lebih kece, halah. Bahkan tampaknya satu kota menyukai sosok Yorrick yang menurut Aku ini sangat menyebalkan. Endingnya pun twist. Sangat tidak tertebak. Lanjut ada “Ny.Elberhart.” kekepoan si Aku kepada Ny.Elberhart membuat dia sendiri tertarik ke pusara cerita yang susah dilepaskan. Terakhir ada “Charles Lebourne” yang lagi-lagi Aku ini kepo sok-sokan mau menyingkap tabir masa lalu si Charles. Sepintas ketika saya menamatkan buku ini, timbul perasaan gloomy pada diri saya. Bukan sedih sih, tapi apa ya namanya? Suram? Muram? Hidup tak bergairah, lah! Mirip perasaan yang timbul setelah baca cerpen Edgar Allan Poe. Untuk orang yang ingin cari hiburan dengan cara membaca, buku ini jelas bukan rekomendasi yang tepat. Tapi ya ga bakal nyesel juga sih kalo mau beli dan baca. Cara bercerita Budi Darma yang sederhana namun bermakna, definitely bikin buku ini sangat page turner. Ceritanya outstanding dan lebih mengeksplorasi karakter tokoh. Semacam penasaran dan gemes sendiri dengan sosok Aku yg over pengen tahu urusan orang. Layak buku ini mendapatkan penghargaan S.E.A Write Awards pada tahun 1984 dari pemerintah Thailand. Dan yang akhirnya membuat saya membeli Olenka dan sedang memulai membacanya.

  24. 5 out of 5

    Awanama

    Budi Darma dalam kata pengantar buku Orang-Orang Bloomington ini menyatakan bahwa pasti ada benang emas halus yang menghubungkan satu karya dengan karya lain seorang penulis. Memang dalam kumpulan ini pun ada benang-benang emas halus yang menghubungkan 7 cerpen di dalamnya: daerah sepi, orang-orang yang tidak disukai atau diabaikan, kedengkian, dan ulang-alik perasaan naratornya terhadap orang-orang yang diceritakannya. Daerah sepi adalah latar yang berulang muncul dalam buku ini. Ja Budi Darma dalam kata pengantar buku Orang-Orang Bloomington ini menyatakan bahwa pasti ada benang emas halus yang menghubungkan satu karya dengan karya lain seorang penulis. Memang dalam kumpulan ini pun ada benang-benang emas halus yang menghubungkan 7 cerpen di dalamnya: daerah sepi, orang-orang yang tidak disukai atau diabaikan, kedengkian, dan ulang-alik perasaan naratornya terhadap orang-orang yang diceritakannya. Daerah sepi adalah latar yang berulang muncul dalam buku ini. Jalan Fess yang disebut-sebut dalam beberapa cerpen adalah lokasi kosan seorang narator. Dia sampai-sampai harus jalan beberapa blok ke sebuah toko untuk mencari informasi tentang tetangganya yang misterius, sang “Laki-Laki Tua Tanpa Nama”. Jalan Sepuluh Selatan yang ditinggali Catherine, gadis yang ditaksir seorang teman sekosan “Yorrick”. Saat orang itu menyatakan niatnya untuk tinggal di jalan yang sama, Catherine bilang jalan itu sepi dan tentram tapi yang merugikan adalah jauh dari tempat-tempat umum. Di salah satu rumah di Jalan Jefferson yang sepi “Ny. Elberhart” berharap surat datang tapi bersikap memusuhi orang lain. Apartemen “Keluarga M”juga berletak di daerah yang jauh dari tempat umum. Para tetangga di Jalan Fess, Jalan Sepuluh Selatan, Jalan Jefferson, dan di Apartemen keluarga M sama-sama punya sikap ‘urusan orang lain bukan urusan saya dan orang lain tidak perlu mengurusi urusan saya’. Suasana sepi daerah itu diperkuat oleh sikap-sikap saling masa bodoh penghuni-penghuninya. Lingkungan atau suasana semacam itulah latar kisah orang-orang yang tidak disukai. “Joshua Karabish” tidak disukai semua orang, mantan teman sekosan, ibu kosnya yang baru, bahkan dianggap tidak berguna oleh ibunya. Teman sekamarnya yang baru pun sempat tidak suka padanya. “Orez” secara tersirat dibenci bapaknya karena dianggap anak pembawa sial, bahkan gejala yang menunjukkan dia hilang menimbulkan semacam kelegaan. “Charles Lebourne” dibenci oleh anak haramnya karena seenaknya meninggalkan ibu anak itu. “Yorrick” dibenci teman sekosannya karena suka bersikap seenaknya dan lebih diramahi oleh ibu kosannya dan gadis kecengannya. Dua anak keluarga M dibenci kesumat oleh tetangganya sampai-sampai dia melakukan tindakan-tindakan yang akan membuat orang lain justru tidak suka padanya. Pada taraf tertentu orang-orang yang tidak disukai itu justru tampak sebagai orang-orang yang diabaikan sehingga menimbulkan rasa kasihan. Dua anak keluarga M itu sering berkelahi dengan anak-anak tetangga dan melakukan tindakan yang menjengkelkan sang narator karena terabaikan secara ekonomi oleh orang tuanya yang memang kere. Joshua Karabish dianggap sebagai inspirator narator menulis puisi pun ibunya tidak mau menerima, apalagi kalau diberi tahu bahwa puisi-puisi tersebut adalah puisi Joshua, padahal itulah kenyataan sesungguhnya. Ny. Elberhart jadi paranoid orang lain menularkan penyakit padanya karena pernah berturut-turut ditulari penyakit oleh suaminya. Di sisi lain dia berharap kehangatan orang lain, bahkan berharap dirinya dikenang setelah kematian. Tapi, dia begitu saja dilupakan, sama seperti majalah yang memuat puisinya: kehujanan, kuyup, lalu dibuang begitu saja. Dalam menghadapi mereka, perasaan kebanyakan narator berubah-ubah. Yang perasaannya tidak berubah paling-paling narator yang berhubungan dengan Yorrick. Dari awal sampai akhir dia kesal pada Yorrick karena beragam alasan. Narator-narator yang lain mengalami fase-fase berikut: penasaran, kesal, merasa bersalah, kasihan. Sangat menonjol fase-fase itu dirasakan narator dalam “Joshua Karabish”, “Keluarga M”, “Ny. Elberhart”. Pada “Laki-Laki Tua Tanpa Nama” tidak ada rasa kesal. Sementara itu, pada “Charles Lebourne” rasa kesal dan rasa bersalah itu terus-menerus bergantian, bahkan sampai akhir cerita tidak ada satu perasaan mantap yang dirasakan narator terhadap Charles Lebourne. Orang-orang Bloomington yang dikisahkan Budi Darma adalah orang-orang Bloomington yang tidak disukai, terabaikan, dan tinggal di daerah-daerah sepi. Keadaan macam itulah yang memperintens rasa kasihan atau rasa bersalah naratornya terhadap mereka. Ulasan ini bisa dibaca juga di http://al-ulas.blogspot.co.id/2017/06...

  25. 5 out of 5

    Fauziah Ramadhani

    Aku membeli buku ini sudah lama sekali, mungkin satu atau dua tahun yang lalu. Selain karena reviewnya yang cukup oke di Goodreads, pengarangnya—Budi Darma—adalah salah satu guru besar di Universitas Negeri Surabaya. Buku ini pertama kali diterbitkan di tahun 1980, kemudian dicetak ulang oleh Mizan. FYI saja sih, buku ini pernah memenangkan penghargaan S. E. A. Write Award tahun 1984 dari Pemerintah Thailand. Yaaah, siapa yang tidak penasaran untuk membacanya hahaha. Butuh waktu cukup la Aku membeli buku ini sudah lama sekali, mungkin satu atau dua tahun yang lalu. Selain karena reviewnya yang cukup oke di Goodreads, pengarangnya—Budi Darma—adalah salah satu guru besar di Universitas Negeri Surabaya. Buku ini pertama kali diterbitkan di tahun 1980, kemudian dicetak ulang oleh Mizan. FYI saja sih, buku ini pernah memenangkan penghargaan S. E. A. Write Award tahun 1984 dari Pemerintah Thailand. Yaaah, siapa yang tidak penasaran untuk membacanya hahaha. Butuh waktu cukup lama untuk menyelesaikan buku ini, padahal bukunya tidak begitu berat untuk dibaca. Buku ini berisi beberapa cerita pendek, genrenya mungkin bisa dibilang slice of life. Ceritanya juga hampir sama, tentang kejadian-kejadian yang dialami oleh orang-orang Bloomington. Kesan pertama setelah menghabiskan salah satu ceritanya: OH SUNGGUH MENYEBALKAN! Orang-orang Bloomington adalah buku yang cukup tricky. Buku ini memadukan penokohan, gaya bahasa, alur cerita, dan latar yang cukup nyeleneh untuk dibaca seseorang yang lahir di tahun 90an sepertiku. Cukup absurd. Yah, buku ini cukup melelahkan untuk dibaca, seriuuuss. Mungkin aku memang tidak terbiasa membaca buku-buku sastra. Tokoh dan alur ceritanya yang aneh membuatku geregetan sendiri dengan buku ini, tapi gaya bahasanya yang ringan membuatku bertahan untuk menuntaskan penasaranku atas cerita-cerita yang terkesan ganjil. Orang-orang di dalam buku ini seakan-akan hidup di dunia nyata, menyumblim menjadi sosok-sosok terrible human being disekitar kita yang menyebalkan tapi juga terkesan manusiawi. Bisa saja kan kita bertemu orang-orang menyebalkan macam Orang-Orang Bloomington. Namun, setelah menyelesaikan semua ceritanya, aku mengatakan pada diriku sendiri: well, it's just not my cup of tea. Aku menikmati ceritanya, tapi tidak begitu tertarik dengan buku ini. Bagaimana ya? Pokoknya begitu, mungkin aku tidak akan membacanya untuk kedua kali.

  26. 5 out of 5

    Rika

    Oke, dengan ini secara resmi aku memutuskan bahwa diriku bukan penggemar Budi Darma. Beberapa cerpen di dalam buku ini memang cukup menarik, dan tak bisa dimungkiri, Budi Darma punya teknik yang sangat khas dalam bercerita, bangunan logikanya sangat terjaga, dan sangat menggugah (aku terkesan cerpen terakhir yang menyentil kesadaran tentang betapa tak berartinya manusia) Tetapi, bicara soal selera, aku tak bisa menikmati gaya berceritanya. Aku berhasil (dengan susah payah) menyelesaikan buk Oke, dengan ini secara resmi aku memutuskan bahwa diriku bukan penggemar Budi Darma. Beberapa cerpen di dalam buku ini memang cukup menarik, dan tak bisa dimungkiri, Budi Darma punya teknik yang sangat khas dalam bercerita, bangunan logikanya sangat terjaga, dan sangat menggugah (aku terkesan cerpen terakhir yang menyentil kesadaran tentang betapa tak berartinya manusia) Tetapi, bicara soal selera, aku tak bisa menikmati gaya berceritanya. Aku berhasil (dengan susah payah) menyelesaikan buku ini karena ini adalah kumpulan cerpen, berbeda dengan Olenka yang membuatku selalu mentok di halaman-halaman awalnya. Tetapi memberi bintang 2 pada karya Budi Darma membuatku tak tega memberikan rating 2,5 pada Perempuan Berkalung Sorban, karena sungguh kualitas literernya sebenarnya sangat jauh di atas PBS. Jadi..demi adilnya, sama-sama kuberi dua bintang sajalah. Yang satu tak terlalu kusuka karena tak bisa kunikmati, padahal segala yang berkaitan dengan fiksi yang baik ada di sana, sementara yang satu (cukup) kunikmati tettapi sepanjang membacanya aku mendaftar "celaan-celaan" yang akan kutulis mengenainya hehehe... Jadi, bila Anda menyukai gaya bercerita yang muram, penuh perenungan, dan ..apa ya istilahnya...mmm berkutat dengan diri sendiri (dalam sense yang positif), mungkin Anda akan menikmati buku ini..

  27. 5 out of 5

    Heruka Heruka

    4,5. 0,5nya diambil karena agak kurang sreg sama cerpen berjudul Yorrick. Pada halaman2 awal, saya merasa gaya tulisan budi darma kurang lebih mirip dengan tulisan Edgar Alan poe meski genrenya jelas beda. Dan sampai akhir buku pun saya tetap merasa tulisan mereka mirip. Meski poe jelas2 menggunakan gaya tersrbut untuk menambah kesan sunyi dan menyeramkan. Sementara itu budi darma, dalam semua cerpen di antologi ini, membiarkan pembacanya ikut menjelajahi tokoh 'saya' begitu saja. tanpa harapan 4,5. 0,5nya diambil karena agak kurang sreg sama cerpen berjudul Yorrick. Pada halaman2 awal, saya merasa gaya tulisan budi darma kurang lebih mirip dengan tulisan Edgar Alan poe meski genrenya jelas beda. Dan sampai akhir buku pun saya tetap merasa tulisan mereka mirip. Meski poe jelas2 menggunakan gaya tersrbut untuk menambah kesan sunyi dan menyeramkan. Sementara itu budi darma, dalam semua cerpen di antologi ini, membiarkan pembacanya ikut menjelajahi tokoh 'saya' begitu saja. tanpa harapan akan dibawa kemana. Saya sangat suka segalanya tentang si tokoh saya dalam semua cerpennya yang kepo, yang sangat manusiawi dan penuh pikiran2 sepeleh dan nggak penting, yang sepertinya kesepian dan terlalu ambil pusing ikut campur urusan orang lain, yang sepertinya datar tanpa emosi. Sungguh memanjakan hasrat saya untuk menjelajah psikologis manusia secara simpel. Cerpen pertama dan kedua adalah favorit saya. anyway saya beli novel ini tok karena terbayang2 sama kavernya yg lovable itu. Iya, gara2 kaver. Dan kedua... karna nama budi darma menyita perhatian saya sejak lama saking pengennya baca Olenka tapi sampe sekarang belum nemu novelnya.

  28. 5 out of 5

    Ani

    Pertama kali kenal karya-karya Budi darma, jamannya kuliah. kalo pernah baca budi darma, beliau punya kesamaan dengan Ahmad Tohari. mereka sama-sama pendongeng yang hebat. Jika Tohari jago banget di setting cerita (you can smell and see everything) maka Budi darma jago banget di karakter. Dalam Orang-orang Bloomington, Darma memperlihatkan bahwa manusia memang berpusat di dalam dirinya sendiri. With less plot (place, time and people) you can sense their loneliness, fears and angry. Buat orang-or Pertama kali kenal karya-karya Budi darma, jamannya kuliah. kalo pernah baca budi darma, beliau punya kesamaan dengan Ahmad Tohari. mereka sama-sama pendongeng yang hebat. Jika Tohari jago banget di setting cerita (you can smell and see everything) maka Budi darma jago banget di karakter. Dalam Orang-orang Bloomington, Darma memperlihatkan bahwa manusia memang berpusat di dalam dirinya sendiri. With less plot (place, time and people) you can sense their loneliness, fears and angry. Buat orang-orang yang sangat ceria, buku ini memang tidak cocok (bisa bikin depresi) tapi buat sesekali berkontemplasi, boleh juga lho dibaca. Lewat kumpulan cerita-cerita pendek ini kita akan belajar bahwa manusia pada dasarnya adalah mahluk sosial dan membutuhkan orang lain untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri (we're nothing without others). one thing for sure, from the book I learns to care for person next to you:)

  29. 5 out of 5

    Gladys Kusmulyadi

    Akhirnya dibuat juga review nya. Nggak akan panjang-panjang. Mau bilang aja, kalau tokoh Saya itu menggemaskan. Saking menggemaskannya sampai membuat saya ingin berteriak di depannya, "Woy, kepo banget sih lu jadi orang!". Beneran deh. Karakter Saya yang gokil ini membuat saya dengan mudah jatuh cinta pada cerita pendek Budi Darma. Penjelasan setting nya sangat enjoyable. Pun konflik yang ditawarkan. Tapi entah kenapa, saya merasa letih mengikuti Saya. Mungkin karena sifat kepo nya ya Akhirnya dibuat juga review nya. Nggak akan panjang-panjang. Mau bilang aja, kalau tokoh Saya itu menggemaskan. Saking menggemaskannya sampai membuat saya ingin berteriak di depannya, "Woy, kepo banget sih lu jadi orang!". Beneran deh. Karakter Saya yang gokil ini membuat saya dengan mudah jatuh cinta pada cerita pendek Budi Darma. Penjelasan setting nya sangat enjoyable. Pun konflik yang ditawarkan. Tapi entah kenapa, saya merasa letih mengikuti Saya. Mungkin karena sifat kepo nya yang melekat di setiap cerita (kecuali di cerita Orez). Cerita pendek favorit saya adalah keluarga M. Saya, dengan semua pikiran dan kelakuan busuknya terhadap anak-anak, berhasil membuat saya emosi betulan. Saya disini sangat kejam. Ugh. Gila.

  30. 4 out of 5

    Op

    Orang-orang Bloomington benar-benar kisah tentang orang-orang Bloomington. Setiap kisah di cerpennya mengedepankan karakter manusia, dengan cerita yang manusiawi. Diksinya tidak istimewa dan bahkan terasa lokal walaupun semua "Aku" di semua cerpennya saya yakin bukan orang Indonesia. Plot cerita juga tidak wah. Alurnya cepat namun dengan gaya tutur yg menurut saya lambat. Buku ini jelas adalah buku tipe saya. Kabarnya Noura akan (atau sudah?) menerbitkan ulang (Tapi emang harus ya ada Orang-orang Bloomington benar-benar kisah tentang orang-orang Bloomington. Setiap kisah di cerpennya mengedepankan karakter manusia, dengan cerita yang manusiawi. Diksinya tidak istimewa dan bahkan terasa lokal walaupun semua "Aku" di semua cerpennya saya yakin bukan orang Indonesia. Plot cerita juga tidak wah. Alurnya cepat namun dengan gaya tutur yg menurut saya lambat. Buku ini jelas adalah buku tipe saya. Kabarnya Noura akan (atau sudah?) menerbitkan ulang (Tapi emang harus ya ada testimoni Eka Kurniawan di covernya. Plislah dibilang sastra trus mau jualan nama Eka gt? :p) A very much recommended! (Ayolah kelean gak bosen apa selalu baca buku yang gitu2 aja mulu?)

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
We use cookies to give you the best online experience. By using our website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.